KONSEP
DALAM PENERAPAN POLA ASUH POLA ASUH ORANGTUA
Dosen
Pembimbing :
Novendawati Wahyu Sitasari, S.Psi, M.Psi
Meliyana Oktavia
20230701042
Universitas Esa Unggul Jakarta
Fakultas Psikololgi
2023
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Di
era teknologi saat ini, mendidik anak sangat dinamis dan sulit. Orang tua yang
memiliki anak sering tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup tentang cara
mendidik anak dengan benar. Misalkan orang tua tidak menginginkan anaknya
kecanduan gawai saat memberinya atau menggunakannya. Namun, tidak ada peraturan
yang mengatur penggunaan gawai atau contoh yang tepat untuk anak. Saat ini,
fenomena pengasuhan anak yang salah, seperti kekerasan fisik dan mental,
terlalu bebas, dan lainnya, sering terjadi, dan berdampak pada perilaku atau
kepribadian anak (Padjrin dalam Srifianti, 2016).
Menurut
TransTV (dalam Respati, 2006) Tidak sama dengan cara orang tua mengawasi anak
mereka atau memberi mereka kebebasan. yang berlebihan, remaja akan percaya
bahwa orang tua tidak menghargai kebutuhannya, menyebabkan mereka menjadi
penakut, tidak percaya diri, dan tidak mandiri. Hal ini terjadi pada remaja
yang berusia 19 tahun, setelah diperlakukan keras oleh orang tuanya sejak ia
berusia 4 tahun. Ia sering disebut "bodoh", diawasi secara ketat, dan
dihukum fisik jika melanggar perintah orang tua. Akibat dari perlakuan orang
tuanya, ia menjadi tidak percaya diri di lingkungannya karena menganggap
dirinya rendah. Saat mengalami masalah, ia akan mengalami emosi yang buruk,
seperti memukul orang lain dan menghancurkan fasilitas di sekitarnya.
Sangat
penting bagi orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan benar, terutama
selama masa kanak-kanak adalah fase perkembangan manusia yang sangat penting
untuk perkembangan individu selama masa dewasa (Hurlock dalam Wijaya, 2015).
Oleh karena itu, setiap anak seharusnya menerima pengasuh yang tepat. Namun,
ada beberapa orang tua yang tidak memberikan pengasuhan yang tepat atau tidak
efektif.
Menurut Santosa (Utami et al, 2022) menjelaskan bahwa peranan
orang tua sangat berpengaruh signifikan terhadap perkembangan karakter dan
kepribadian anak, perhatian pola asuh yang baik dari orang tua akan memberikan
dampak pengaruh terhadap pola tingkah laku anak dan kepribadiannya. Dari hasil
pengabdian dan penelitian yang relevan dapat di kesimpulan bahwa pendampingan
orang tua dalam pola asuh yang baik akan
memberikan dampak positif,
sehingga peningkatan pemahaman orang tua tentang pola asuh perlu dilakukan melalui program parenting education.
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut
Gunarsa (dalam Srifianti, 2022) Menjadi orang tua, ibu dan ayah memiliki
peranan yang sangat penting dalam bertugas untuk mendidik anak-anaknya. Tanggung
jawab utama sebagai orangtua adalah mendidik dan membimbing anak mencapai
tahapan tertentu agar anak siap dalam kehidupan bermasyarakat. Tugas orang tua,
sebagai agen sosialisasi nilai-nilai kebaikan harus memberikan contoh perilaku
yang baik, dapat menjadi teladan dalam aturan tentang perilaku baik dan buruk
dengan bahasa yang dapat dipahami anak sesuai dengan tahapan-tahapan usianya
(Hastuti dalam Srifianti, 2022).
Salah
satu faktor yang dapat membentuk konsep diri remaja menurut Baumrind dalam Berk
(dalam Respati, 2006) adalah lingkungan keluarga, yaitu pola pengasuhan orang
tua. Pola asuh merupakan cara orang tua membesarkan anak dengan memenuhi
kebutuhan anak, memberi perlindungan, mendidik anak, serta mempengaruhi tingkah
laku anak dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pengasuhan orang tua tersebut
maka remaja akan belajar tentang peran-peran yang ada dalam masyarakat seperti
nilainilai, sikap serta perilaku yang pantas dan tidak pantas, atau baik dan
buruk. Segala perlakuan dari orang tua terhadap remaja sejak masa kanak-kanak,
akan memberikan makna tertentu. Pemberian makna itulah yang disebut sebagai
persepsi remaja terhadap pola asuh orang tua.
Setiap
keluarga memiliki pola asuh yang berbeda dalam mendidik seorang anak dan
biasanya diturunkan oleh pola asuh yang diterima dari orang tua sebelumnya.
Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan
orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum dan
lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang dan lain
-lain), serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak
dapat hidup selaras dengan lingkungannya (Latifah dalam Ayun, 2017).
PEMBAHASAN
Menurut Lubis (dalam Maftuchatunni’mah
dan Nasir, 2022) menyatakan bahwa masyarakat atau orang tua memiliki tingkat
pengetahuan mengenai pola asuh masih kurang, penulis juga menemukan terdapat
penelitian yang mengungkapkan bahwa tingkat kesadaran orang tua tentang pola
asuh sudah tergolong baik. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Penelitian
ini menemukan bahwa para orang tua sudah memiliki tingkat pengetahuan dan
kedasaran tentang pola asuh yang baik. Penelitian ini juga menemukan bahwa
orang tua lebih banyak menggunakan pola asuh demokratis. Dalam penelitian
dijelaskan juga bahwa faktor yang mendukung orang tua memberikan pengasuhan
yang baik diantaranya sifat sabar yang dimiliki orang tua, faktor lingkungan
dan komunikasi yang terjalin baik antara orang tua dan anak.
Menurut Santosa ( dalam Widawati,
2022) menyatakan bahwa orang tua di kalangan
masyarakat yang mengharuskan anak menurut
dan patuh menjadi
ciri utama pola
asuh otoriter. Dari hasil evaluasi orang tua
yang memilih sikap otoriter
akan terlebih mengontrol anak, mereka
tidak boleh berpendapat
sehingga mengakibatkan anak menjadi
penakut mudah cemas dan stres jika terlalu ditekan oleh orang
tua. Pola asuh
permisif merupakan pola asuh
yang berlawanan dengan pola
asuh otoriter, sebab pola
asuh permisif memiliki kehangatan yang tinggi pada anak
namun tidak mempunyai kekuatan untuk mengontrol anak, pola seperti ini sering di berikan kepada orang tua yang terlalu penyabar.
Pengetahuan tentang metode dan cara pendampingan pengajaran yang baik sangat
diperlukan oleh orang tua agar apa yang telah diajarkan menjadi lebih efisien,
efektif dan menyenangkan bagi anak, sehingga semakin banyak kegigihan yang diperlihatkan
oleh orangtua dalam keterlibatan
mereka mendampingi tumbuh kembang anak. Hal ini sejalan dengan hasil kegiatan pengabdian
yang dilakukan.
Rozali, Y. A. Kecerdasan
interpersonal remaja ditinjau dari penerapan pola asuh orangtua. Semin.
Psikol. Kemanus. 446–452 (2015).
Siwi, R. W., Aries, Y.
& Noryta, W. Perbedaan konsep diri antara remaja akhir yang mempersepsi
pola asuh orang tua authoritarian , permissive dan authoritative. J. Psikol.
4, 119–138 (2015).
Srifianti, Kristiyani,
V., Lunanta, L. P. & Hatta, A. R. Peran mindful parenting terhadap
parenting stress pada ibu yang bekerja. J. Psikol. Media Ilm. Psikol. 20, 11–16
(2022).
Wijaya, Y. D. Positive
parenting progam (triple p) sebagai usaha untuk menurunkan pengasuhan
disfungsional pada orangtua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus (dengan
diagnosa autis dan adhd). J. Psikol. 13 (1), 20–24 (2015).
Ayun, Q. Pola asuh
orangtua dan metode pengasuhan dalam membentuk kepribadian anak. ThufuLA J.
Inov. Pendidik. Guru Raudhatul Athfal 5, 102 (2017).
Lubis,
M. & Suryana, D. Tingkat Pemahaman Terhadap Pola Asuh Orang Tua di
Panyabungan. J. Educ. FKIP UNMA 8, 1003–1010 (2022).
Wijaya,
Y. D., Widiastuti, M., Psikologi, F., Esa, U. & Barat, J. INTERVENSI ONLINE
UNTUK MENURUNKAN STRES DAN. 19, (2022).
Santosa,
A. I., Rafli, Z. & Lustyantie, N. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Dan Sikap
Bahasa Terhadap Kemampuan Membaca Pemahaman. J. Pendidik. Bhs. dan Sastra
18, 69–80 (2018).
Santosa,
A. B., Nugroho, W. & Nurmalasari, W. Peningkatan Pemahaman Pola Asuh Orang
Tua Melalui Program Parenting Education. JMM (Jurnal Masy. Mandiri) 6,
3818–3828 (2022).
Komentar
Posting Komentar